Ditemukan ada Korelasi yang Signifikan antara Tinggi Rendahnya Tingkat Depresivitas dengan Faktor Self-confidence Seseorang

August 26, 2009

be your selfTernyata tingkat depresifitas seseorang sangat berhubungan erat dengan tingkat kapasitas kepercayaan diri seseorang.. Paling tidak hal tersebut yang ditemukan oleh Team Penelitian Ilmiah Grahita Indonesia. Penelitian yang melibatkan sejumlah 2301 responden ini telah memberikan suatu data yang bisa dipercaya bahwa semakin tinggi tingat depresivitas seseorang maka semakin rendah tingkat kepercayaan dirinya. Presentasi berkaitan dengan hasil penelitian ilmiah itu sendiri diadakan di Tangerang dalam sarasehan civitas Grahita Indonesia di Wisma PKPN, 19 Agustus 2009 dan dihadiri sejumlah 112 konselor Grahita Indonesia yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Demikian sekilas Info.


Bertambahnya Pendapatan Anggota Dewan Tidak Praktis Membuat Mereka Kaya

August 21, 2009

Satu hal yang pasti terjadi pada para anggota dewan perwakilan rakyat DPR) ialah bahwa pendapatan mereka bertambah dibanding sebelum mereka menjadi anggota dewan. Namun bertambahnya pendapatan mereka tidak dengan sendirinya menjadikan mereka menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Demikian kata Eko Budhi Purwanto, dalam seminarnya yang bertajuk “The Second Leader” pada tanggal 15 Agustus 2009 yang lalu. Seminar itu sendiri diselenggarakan di hotel Marbella, Anyer dan dihadiri oleh hampir seluruh anggota dewan perwakilan rakyat propinsi Banten menjelang masa paripurna mereka. Ditambahkan oleh Eko Budhi Purwanto bahwa disamping bertambahnya pendapatan ada beberapa hal negatif yang muncul pada mereka yakni finance management sense yang lebih buruk, serta high human triger yang menjadi kian membesar.
Demikian sekilas info


Abnormalitas di Dunia Pendidikan

May 8, 2009

Hal yang paling berat dalam menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus justru ketika harus memberi pengertian kepada orang tua mereka tentang kondisi naka-anak mereka. Demikian kata Eko Budhi Purwanto,orang nomor satu Lembaga Grahita Indonesia,Adalam seminar sehari bagi para guru-guru swasta katholik tanggal 2 Mei 2009. Lebih lanjut Eko Budhi membeberkan beberapa jenis abnormalitas berikut penanganannya. Seminar yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Katholik Bandung ini berjalan sangat sukses dan diikuti lebih dari 100 (seratus) guru-guru katholik se-jawa barat. Di antara mereka ada yang datang dari Tasik Malaya, Cirebon. Sessi interaktif yang disediakan benar-benar menjadi wahana mereka untuk belajar secara praktis mengenai bagaimana mereka harus melakukan perlakuan terhadap berbagai kasus yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan yang berbeda Romo Darmo mengemukakan pentingnya event semacam ini tidak saja untuk guru-guru tapi juga bagi para tops manajemen sekolah, terutama untuk materi-materi seperti hypnosis,dan materi lainnya.


Antara Janji dan Sikap Masa bodoh Seorang Anak

April 22, 2009

Janji yang sering tidak ditepati,terbukti merupakan salah satu penyebab seorang anak menjadi apatis.

Ketika orang tua menjadi begitu cemas akibat melihat putra-putrinya menjadi begitu masa bodo terhadap lingkungannya,boleh jadi materi ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi anda. “Sikap apatistis seorang anak terutama terhadap orang tua mereka salah satu diantaranya disebabkan karena orang dewasa disekitar mereka banyak memberikan janji dan tidak pernah menepatinya.”demikian ungkap Eko Budhi Purwanto dalam Seminar.sehari yang diselenggarakan oleh Jaringan Pengusaha Kecil Bintang Utara di Tangerang, 18 April 2009 yang lalu.
Penderitaan psikologis seorang anak akibat sering.kali dibohongi oleh orang lain akan mendorong satu konpensasi negatif yang lazim disebut “Aphatis-compulsivity”. Anak-anak dengan konpensasi seperti ini biasanya menjadi cenderung tidak mempercayai orang lain.enggan menerima saran dan perintah kecuali oleh gurunya,dan cenderung masa bodo oleh keadaan.
Selanjutnya Eko Budhi,Direktur Lembaga Grahita Indonesia ini memberikan tips bagi anak anak yang berkonpensasi semacam ini yakni dengan metode yang disebut “stair-improvement”. Pada dasarnya metode ini adalah metode pemulihan kepercayaan dengan mulai membuat pembuktian janji-janji yaitu dengan menghindari janji yang diperkirakan tdk bisa ditepati. Disamping itu orang tua memulai dengan membuat janji sederhana dan menepatinya.
Acara seminar itu sendiri dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta yang datang dari Jabodetabek,Bandung dan Serang. Saat ini perhatian orang tua terhadap anak-anak mereka memang mengalami peningkatan namun hasil penelitian Grahita Indonesia mengarah pada satu kesimpulan bahwa 71,20% orang tua lebih banyak membohongi anak-anak mereka.
Lalu apa kata dunia…..


Dampak Sistem Kontrol Orang Dewasa terhadap Pertahanan Ego seorang Anak

March 13, 2009

Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap orang dewasa akin memberlakukan sistem control tertentu untuk dapat mengendalikan anak-anak mereka.

 

 

 

forestSistim control yang diberikan orang tua terhadap anak-anak mereka ternyata akan berdampak terhadap bagaimana anak-anak mereka menerapkan pertahanan egonya. Semakin ketat sistem kontrol yang diberlakukan akan berdampak terhadap semakin tingginya pertahanan ego anak-anak mereka.

Demikian hasil penelitian Lembaga Grahita Indonesia. Penelitian ini melibatkan 340 responden yang terdiri dari orang tua dan anak. Penelitian yang dipimpin Winantu Basuki dan kawan-kawan ini memang memberikan banyak data yang membuat kita sadar, betapa sebuah sistem kontrol yang tampak sederhana telah berdampak begitu besar terhadap perilaku seorang anak.

Dari 530 respoden telah terpilih 340 keluarga yang telah menerapkan sistem kontrol yang ketat terhadap anak mereka. Hasil yang diperoleh ialah bahwa 91,2% (sembilanpuluh satu koma dua persen) anak mereka memiliki pertahanan ego yang cukup tinggi.

“Penelitian ini telah membawa pada suatu kesimpulan bahwa semakin ketat sistem kontrol orang dewasa terhadap anak mereka akan semakin sulit anak mereka untuk bekerja sama dengan teman sebayanya” demikian tambah Eko Budhi Purwanto selaku penanggung jawab penelitian ini.

 

 

 


Tuntutan yang Berlebihan terhadap Anak oleh Orang Dewasa, Merupakan Alasan yang Paling Dominan Mengapa Mereka Suka Berbohong

March 10, 2009

Penderitaan akibat tuntutan orang dewasa ternyata menjadi beban tersendiri bagi anak-anak. Mereka merasakan tuntutan sebagai suatu keharusan yang harus ia penuhi dengan berbagai cara. Berbohong menjadi alternative pilihan yang paling utama bagi anak untuk berkonpensasi atas berbagai tuntutan yang ditujukan padanya oleh orang dewasa disekitarnya.

 

030620081458Paling tidak inilah kesimpulan awal dari hasil penelitian Lembaga Grahita Indonesia tentang pengaruh penderitaan tuntutan terhadap mekanisme pertahanan ego anak melalui aktivitas berbohong.

Penelitian yang dipelopori oleh Agus Lasono dan Suharjan ini melibatkan 1234 (seribu dua ratus tigapuluh  empat) responden, yang juga merupakan klien dari Lembaga Grahita Indonesia di berbagai tempat di nusantara. Responden terdiri  anak-anak yang orang tua mereka berkonsultasi dengan keluhan  anak-anak mereka suka berbohong.

Dari 1.234 responden 74% diantaranya merasakan bahwa orang tua mereka merupakan penuntut yang berlebihan, sementara 14% diantaranya abstain karena tidak berhasil diinvestigasi, dan 12% lainnya merasakan bahwa orang tua mereka merupakan penuntut yang sedang-sedang saja.

“Ada satu hasil yang juga bisa dijadikan input lebih lanjut bahwa mereka yang suka berbohong ternyata memiliki daya saing yang berlebihan. Tentu terlalu tinggi daya saing mereka bisa juga disebabkan karena perasaan yang berlebihan akan tuntutan orang dewasa disekitarnya” demikian tambah Eko Budhi Purwanto penanggung jawab penelitian ini.


87% Pria Memilih Pasangan Hidup yang Wajahnya Mirip dengan Wajahnya Sendiri.

March 9, 2009

Telah dilakukan penelitian oleh Lembaga Grahita Indonesia pada bulan Maret 2008 sampai dengan Januari 2009 berkaitan dengan kemiripan wajah antar pasangan hidup dan atau calon pasangan hidup.

 

restoHasil dari penelitian Lembaga Grahita Indonesia memberikan suatu gambaran yang jelas bahwa kaum pria, baik sengaja maupun tidak sengaja telah memilih pasangan hidup dan atau calon pasangan hidup yang wajahnya mirip dengan wajahnya sendiri. Dari 322 responden 87% di antaranya memiliki wajah yang hamper mirip antara keduanya.

“Namun tidak satupun dari responden yang sengaja sengaja memilih pasangan hidupnya karena wajahnya memiliki kemiripan antara keduanya, dan hanya 4 (empat) responden yang menyadari bahwa keduanya memiliki kemiripan wajah setelah sekian lama mereka berpacaran” demikian ungkap Eko Budhi Purwanto, orang nomor satu Lembaga Grahita Indonesia ketika diminta keterangan lebih lanjut mengenai hasil penelitian ini.

Hasil penelitian ini hanya merupakan awal dari penelitian utama yakni korelasi antara bentuk wajah dengan pola prilaku emosional yang akan dilaksanakan pada bulan April mendatang .


Ditemukan 1 (satu) Anak dengan Gejala Autis dalam Setiap 3 (tiga) Sekolah Taman Kanak-kanak

March 8, 2009

Childhood Autism atau  (Autisma masa kanak-kanak) merupakan gejala penyimpangan perilaku anak yang berdampak pada hampir hilangnya daya konsentrasi anak yang bersangkutan. Biasanya gejala umumnya ditandai dengan interval perhatian yang sangat pendek.

 

indah-joSeorang yang mengalami gejala autisma memerlukan penanganan secara individual dan dengan perhatian yang serius agar nanti gejalanya bisa hilang pada saat anak tersebut dewasa. Memang gejala autisma pada kanak-kanak sangat bisa dihilangkan,bahkan ada beberapa yang kemudian memiliki pretasi tertentu. Namun bila terlambat ditangani maka anak yang mengalami gejala autisma bisa menjadi anak yang terbelakang di masa dewasanya.  “Amat rumit bila kita membahas mngenai apa penyebab dari timbulnya gejala autism ini, namun yang terpenting saat ini adalah bagaimana anak-anak semaam ini bisa tertangani ,baik pendidikan emosional maupun perkembangan intelektualnya” demikian kata Eko Budhi Purwanto, direktur Lembaga Grahita Indonesia.

Hasil penelitian lembaga Grahita Indonesia telah menunjukkan bahwa telah ditemukan 1 (satu) anak dengan gejala autisma ini pada setiap 3 (tiga) sekolah taman kanak-kanak. Penelitian ini oleh lembaga Grahita Indonesia telah dilakukan pada bulan November 2008 yang lalu.

Ada kemungkinan bahwa jumlah tersebut akan terus bertambah


Perbedaan Komunitas dan Gaya Hidup antara Suami Istri merupakan Penyebab Utama sebuah Perceraian

March 8, 2009

Perbedaan komunitas dan perbedaan gaya hidup antara suami dan istri sering kali menjadi pemicu utama sebuah keretakan keluarga, yang tidak jarang menimbulkan perceraian keduanya.

hanggar-celebes

Perbedaan komunitas dan perbedaan gaya hidup antara suami dan istri sering kali menjadi pemicu utama sebuah keretakan keluarga, yang tidak jarang menimbulkan perceraian keduanya.

Perbedaan komunitas akan menyebabkan perbedaan lingkup kelompok pertemanan antara suami dan istri. Hal yang terjadi adalah bahwa mereka keduanya menjadi sangat asyik dengan dunia mereka masing-masing. Demikian hasil sementara penelitian Lembaga Grahita Indonesia. Penelitian ini memang tidak banyak melibatkan reponden, hanya saja dari sekian banyak reponden yang bersedia membantu 82% di antaranya mereka membenarkan bahwa perceraian mereka adalah karena keasyikan mereka atas dunia mereka masing-masing.


Homeschooling dan Melatih Persaingan

March 7, 2009

Written by Ratu Vanda Wardani

 

autumn-leaves2Bagaimana anak-anak HS dapat survive kalau tidak diajarkan berkompetisi dan terus berada dalam situasi nyaman bersama keluarga? Kalau dibilang HS itu nyaman-nyaman aja…gak juga, loh! Suka juga ada badainya…:-) Itu tinggal bagaimana kita merancang program HS buat anak-anak. Dan masalah the S word..sosialisasi…menghadapi konflik, bersaing & berteman….memangnya hanya sekolah yang bisa menyediakan itu?

Sekarang kalau kita kembali ke ‘dunia nyata’..selepas sosialisasi yang diberikan di sekolah, mana lagi kita akan berada dalam lingkungan homogen yang diberikan sekolah…yang pakai seragam (kecuali pegawai negeri kali, ya?), yang harus berbaris- baris & antri, yang bergaul seharian penuh di dalam gedung tembok bujur sangkar dengan mereka yang seumur?

Di kantor-an atau dunia luar kan sangat jarang akan bertemu sosialisasi macam yang ditawarkan sekolah ini.

Sementara kalau soal bersaing…. kadang kembali ke karakter anaknya juga. Kebetulan salah satu anak saya ada yang memang kompetitif sekali (tapi, umumnya anak juga gitu, maunya menang, ya?). Sampai pernah ada yang bilang dia cocok masuk Marinir kalau gede. Walah

Untuk menyalurkannya hal ini, mereka saya ikutkan team sport & klub catur, juga boyscout (pramuka kalau di Indonesia). Pada saat ada pertandingan, selain menyalurkan dan melatih berkompetisi juga anak belajar untuk sportif. Dan ini juga kan peluang untuk berteman. Bukan masalah belajar bersaing, tetapi bagaimana ia bisa belajar berikhtiar dan sportif. Tak melulu harus menang, anak juga perlu belajar menerima dan menghadapi kekalahan.

Sekolah bukan satu-satunya sarana untuk sosialisasi. Apalagi untuk anak yang masih kecil, justru keluarga sebagai unit sosial masyarakat yang terkecil-lah yg merupakan tonggak penting untuk anak membentuk jati dirinya sehingga saat ia melangkah ke dunia luar, ia sudah tahu siapa dia. Kita tidak perlu khawatir krn anak masih kecil lalu terburu-buru mengirim dia ‘keluar’ supaya punya teman, supaya bersosialisasi.

Sosialisasi macam apa? Banyak orang tua yang mengeluhkan saat anaknya masuk ke preschool tiba-tiba pulang dengan ‘attitude’ baru atau mendapat ‘kosakata’ baru yang tidak sesuai dengan norma keluarga mereka. Inikah sosialisasi yang dicari?

Anak masih perlu waktu untuk mengenal dirinya & keluarganya serta belajar bagaimana dia berinteraksi dengan anggota keluarganya.