Posted by: grahita | December 27, 2011

Akar Herbal Menyerupai Manusia

image

Seorang petani Zheng, 63 tahun, di Datianba Village, menemukan keanehan saat menggali untuk mendapatkan herbal, yang akan digunakan sebagai tonik untuk ginjal dan untuk merawat tulang yang lemah dan kerontokan rambut. Para ilmuwan berusaha untuk memahami proses produksi pelik akar herbal yang telah digali keluar dari tanah oleh seorang petani di Cina itu.

Zheng Dexun menunjukkan heshouwu yaitu herbal china atau sejenis ubi yang berupa manusia, di Langzhong, Barat Daya Provinsi Sichuan, Cina. Ubi ini seberat 5,8 kilogram dan berdiri 62 cm tinggi, menyerupai anak-anak yang telanjang.

Uniknya, di bagian ‘kepala’ ubi ada mata dan hidung yang menonjol. Sebagaimana bentuk tubuh manusia, ubi tersebut juga dilengkapi dengan lengan, kaki.

Ini bukan kali pertama penemuan ubi pelik. Temuan yang hampir serupa oleh seorang petani juga menggemparkan dunia. (gi-news)

Posted by: grahita | October 13, 2011

Patung Dewi Saraswati Menangis Pasca Gempa di Bali

Patung Dewi Saraswati di SMPN 1 Susut, Kabupaten Bangli, Bali mengeluarkan air mata pasca terjadinya gempa bumi, peristiwa gaib ini menghebohkan masyarakat setempat.

Ditengah paniknya masyarakat Bali akibat terjadi gempa cukup besar pada Kamis siang, Patung Dewi Saraswati yang ada di pintu masuk sekolah SMPN 1 Susut tiba-tiba saja mengeluarkan air mata yang meleleh kedua sudut matanya.

Patung yang tingginya kurang lebih tiga meter ini diketahui mengeluarkan air mata sekitar pukul 11.15 WITA.

“Saat itu saya diberitahu oleh anak-anak yang heboh diluar karena saat gempa semua di suruh keluar bahwasannya patung dewi Saraswati sebagai perlambang Dewi pendidikan ini mengeluarkan air mata, dan memang benar matanya ada meleleh air mirip air mata,” kata Kepala Sekolah SMPN 1 Susut Bangli, Ketut Ngebek Sukarsana.

Dikatakan patung yang didirikan pada tahun 2006 silam ini sebelumnya tidak pernah mengalami kejadian gaib seperti itu.

Dewa, salah seorang siswa kelas VII di sekolah itu mengatakan dia sangat terkejut dan baru kali ini menyaksikan keanehan seperti ini.

“Benar pak dari tadi terus saja air matanya meleleh dan bahkan itu seperti orang yang menangis karena menahan kesedihan yang berlebihan,” kata siswa asal wilayah Sulahan.
Sumber: Antara News.

Posted by: grahita | October 5, 2011

Hati-hati dengan Teh Celup

Siapa tidak suka minum teh celup bila tehnya disuguhkan dengan aroma bau yang sedap, ditambah sedikit gula disajikan hangat-hangat.

Namun kebiasaan minum teh celup ternyata memerlukan pengetahuan khusus, agar tidak memberi dampak spesifik bagi para penggunanya. Kantong kertas kecil berserat renggang yang dipakai sebagai pembungkus curahan tea ternyata mengandung zat chlorine, yang antara lain bisa menyebabkan kemandulan, keterbelakangan mental dan kanker

Bahaya Chlorine
Pada umumnya kertas kantong tea dibuat dari pulp (bubur kertas), yang terbuat dari bahan kayu, bubur ini berwarna coklat tua. Untuk membuat serat pulp itu berwarna putih, digunakan sejenis bahan kimia pemutih yang terbuat dari senyawa chlorine yang sangat pekat. Sayang dalam prosesnya, chlorine ini tetap tertinggal dalam produk kertas karena tidak dilakukan penetralan karena biayanya sangat tinggi. Kertas semacam inilah yang kemudian digunakan sebagai kantong teh celup.

Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh lebih dari 3 – 5 menit. Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam industri kertas sebenarnya berfungsi sebagai disinfektan kertas, sehingga kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena bersifat disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang, dan kanker.
Untuk pencegahan yang ideal adalah dengan berusaha agar pencelupan tea dilakukan kurang dari 3 menit saja.

Sumber: absc.ic.org

Posted by: grahita | October 2, 2011

Manusia Ternyata Membutuhkan Masalah

Ada hal yang selalu memberatkan persoalan, pada saat seseorang sedang justru ingin menyelesaikan persoalan pribadinya. Demikian fakta yang selalu dihadapi oleh orang yang memiliki masalah. Kajian yang lebih dalam tentang manusia dan masalahnya telah dilakukan oleh Lembaga Kajian Ilmu Grahita Indonesia (LKIGI).
Studi yang melibatkan ratusan partisipan ini, mencoba menemukan beberapa fakta ilmiah tentang hubungan manusia dengan masalah kehidupannya. Dari hasil studi ini diperoleh kesimpulan bahwa, manusia ternyata justru membutuhkan masalah pada batas tertentu, karena dengan masalah manusia mampu membangun energi kognitif yang maksimal. Kesimpulan lain yang diperoleh dari studi ini ialah bahwa “problem recall” tidak selalu pada masalah yang muncul paling baru (date modified problem), tetapi sangat tergantung pada aspek hubungan emosional antara masalah dengan kejadian yang sedang ia hadapi.
Studi yang sepenuhnya dibiayai oleh Grahita Indonesia Incorporation ini dilakukan sejak Januari 2011 sampai dengan 12 September 2011. Seluruh partisipan yang terlibat terdiri dari beberapa jenjang ekonomi, status, dan usia. (GI01)

Posted by: grahita | September 17, 2011

Penyembuhan Homoseksual

image

Memecahkan masalah homoseksual sering kali akan menjadi tantangan yang paling sulit yang pernah dihadapi oleh siapapun dari kita. Membutuhkan komitmen yang sangat besar, keberanian, dan usaha emosional yang menyakitkan untuk mencapainya. Ini sama sekali bukanlah jalan yang mudah untuk menghadapi perasaan homoseksual yang tidak diinginkan, yang ditimbulkan oleh keterasingan dari pria hetero dan maskulinitas, dan luka emosional yang parah tentang figur kita sendiri sebagai pria. Homoseksualitas telah membantu kami menanggulangi masalah itu, tapi tidak membantu sama sekali untuk memulihkannya. Dan kami mendapati bahwa masalah itu tidak dapat dipulihkan tanpa rasa sakit ataupun secara cepat.

Sebanyak apapun kita berharap dan berdoa agar hasrat homoseksual kita hilang begitu saja dengan sendirinya tanpa harus berbuat sesuatu yang berbeda, hal itu tidak akan pernah terjadi. Kita tidak akan dapat mulai merasa berbeda sampai kita memulai untuk bertindak berbeda dan berpikir berbeda. Hasrat homoseksual kita tidak akan mulai berubah hingga kita mulai untuk merubah keseluruhan infrastruktur dalam hidup kita – keyakinan kita tentang diri kita sendiri dan orang lain, kebiasaan kita, lingkungan kita, kehidupan pemikiran kita, perilaku kita, identitas kita, pergaulan kita, jalan kita di dunia.

Banyak dari kami mendapati kami hanya akan dapat mulai mengalami perubahan yang berarti pada saat kami berhenti mencoba mengendalikan hasrat seksual dan sebagai gantinya mulai mengisi kebutuhan inti yang mendasarinya – kebutuhan setiap anak laki-laki untuk diakui, dididik dan dicintai oleh ayahnya dan saudara laki-laki nya.

Kami mempelajari bahwa perubahan yang nyata datang dari pemenuhan kebutuhan yang sebenarnya, bukan hanya menahan dorongan yang ada. Tapi bagaimana kami memenuhi kebutuhan tersebut?

Ini mirip dengan pencandu alkohol yang mengikuti AA berniat untuk memperbaiki “satu masalah”nya yakni minum yang tidak terkontrol, hanya akan menemukan bahwa “12 Langkah” memanggilnya untuk memperbaiki hidupnya secara total sehingga penyembuhan bisa mengikutinya, dan kesembuhannya dari kebiasaan minum lebih sebagai produk sampingan dari kesehatan emosional dan spiritual yang baru ia temukan.

Sama seperti itu, kami menetapkan pertama kami untuk memperbaiki “satu masalah” kami yakni hasrat homoseksualitas yang tidak kami inginkan, dan yang kami temukan kemudian adalah hal itu menuntut kami untuk lebih dahulu merubah semua yang ada pada diri kami sendiri yang membuat kami menghibur diri dalam homoseksualitas.

Latar belakang berbeda dengan Cell Group belajar menerima perbedaan

Meskipun masing-masing dari kami menemukan dan menjalani jalur pemulihan secara terpisah dan dengan cara kami sendiri-sendiri, ketika kami kemudian saling berbagi pengalaman, kami menemukan kesamaan yang mengejutkan dalam perjalanan pemulihan kami. Disini kami merangkum dan membagikan pengalaman kolektif kami untuk menunjukkan kepada yang lain jalan yang berhasil paling baik bagi kami, meski seringkali sulit untuk ditempuh, pada akhirnya akan membawa pemulihan dan kebahagiaan yang luar biasa.

Langkah 1

Menerima Diri Kami Apa Adanya: Keluar dari Rasa Malu dan Isolasi

Kami mengambil beberapa langkah pertama dari perjalanan pemulihan kami ketika kami akhirnya mulai mencintai dan menerima diri kami apa adanya. Keluar dari persembunyian dan menghampiri pihak lain untuk meminta dukungan, kami mulai keluar dari rasa malu, isolasi dan kerahasiaan yang telah memerangkap kami sekian lama.

Ini adalah sesuatu yang ironis tapi nyata: Ketika kami dapat mulai mencintai dan menerima diri kami apa adanya, banyak dari kami dapat membuat sedikit kemajuan ke arah perubahan yang nyata.

Penerimaan akan kelebihan kami, nilai-nilai kami dan potensi kami yang sebenarnya sebagai pria adalah suatu langkah penting untuk keluar dari homoseksualitas. Selama kami memaksakan diri dengan merasa kami tidak cukup berharga untuk diselamatkan, kami tidak dapat membiarkan Tuhan atau siapapun yang lain masuk ke dalam hidup kami untuk menyelamatkan kami. Selama prioritas utama kita adalah menyembunyikan kehidupan dan perasaan rahasia kita, dan prioritas kedua adalah pemulihan, kita tidak akan pernah bisa untuk keluar dari rasa bersalah, membenci diri sendiri dan isolasi yang mengikat kita.

Kami menjadi memahami dua kenyataan esensial berikut tentang diri kami :

- Rasa bersalah dan rasa malu tidak akan pernah dapat memotivasi perubahan yang nyata. Usaha perubahan yang dimotivasi oleh rasa bersalah dan rasa malu akan selalu gagal. Rasa malu memompa perasaan homoseksual dan perilaku kompulsif, bukan penyembuhan.

- Bagi kami, homoseksualitas melambangkan masalah yang serius dalam berhubungan – terutama dalam hubungan kami dengan pria hetero yang lain. Dan, masalah berhubungan dengan orang lain tidak akan pernah dapat dipulihkan dalam isolasi dan kerahasiaan.

Kedua prinsip tersebut saling berhubungan secara dekat. Kami menemukan bahwa kami tidak akan pernah dapat bebas dari rasa malu dengan menyimpan suatu bagian yang monumental dari diri kami tersembunyi dari orang-orang yang cinta dan penerimaannya paling kami inginkan. Kami tidak dapat mulai mempercayai yang lain jika kami takut mereka akan menolak kami ketika tahu rahasia kami. Kami tidak dapat membuka hati kami untuk menerima cinta dari yang lain jika kami tidak dapat mencintai diri kami sendiri.

Apakah menerima diri kami apa adanya, dengan semua kelemahan dan keterbatasan kami, menghambat kami dari perubahan? Tidak, malah sebaliknya. Bayangkan mahasiswa yang baru masuk yang ingin menjadi dokter nantinya. Apakah dia mencaci maki dirinya karena tidak segera menjadi dokter? Apakah dia membandingkan dirinya dengan ahli bedah berpengalaman dan mengkritik dirinya sendiri karena tidak menjadi salah satu dari mereka? Apakah dia mencoba melompati apa yang belum ia jalani? Tidak. Menerima dirinya sebagaimana sekarang, tanpa mengkritik diri sendiri, akan membantu dirinya mencapai tujuan dengan meletakkan diri pada jalur yang benar untuk mempelajari apa yang ia perlu pelajari dan menjalani pengalaman yang ia perlu jalani, pada saat yang tepat pada jalan yang tepat. Hal yang lain akan membuat ia gagal bahkan sebelum ia memulai.

Dan begitulah, melalui trial and error – dan biasanya dengan campur tangan Tuhan! – kami mulai menerima diri kami apa adanya. Kami mulai melihat bahwa Tuhan dan sebagian besar dari pihak lain memandang kami dengan penghargaan yang lebih tinggi daripada yang kami berikan sendiri! Kami mendapati bahwa mereka tidak selalu menolak kami, banyak yang pada kenyataannya mampu melihat perjuangan kami di masa lalu sebagai sesuatu yang berharga pada diri kami.

Beberapa dari kami mengalaminya melalui suatu perasaan yang dalam akan kecintaan dan perhatian yang tidak menghakimi dari Tuhan.

Beberapa dari kami meninggalkan kebencian akan diri sendiri dengan berusaha bersama ahli terapi yang penuh perhatian dan sensitif.

Beberapa dari kami mendapatkan penerimaan diri sendiri dan cinta melalui “support group”

Jason menceritakan:

“Pengalaman dengan support group membantu saya membuka suatu tingkat emosional dan berhubungan dengan pria lain pada suatu derajat yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Group tersebut adalah grup yang terlindung, lingkungan yang aman dengan pria lain yang mengetahui rahasia saya yang dalam dan gelap dan mereka memiliki rahasia yang sama. Saya dapat membuka diri dengan mereka dalam lingkungan praktek yang aman, untuk kemudian saya terapkan dengan pria straight di dunia nyata. Para pria dalam support grup saya mengerti perasaan saya dan membantu saya menemukan solusi dari masalah saya. Ketika saya merasa depresi, saya memanggil mereka dan mereka berbicara dengan saya tanpa hasrat

untuk melakukan kegiatan seksual. Saya menjadi teman baik dengan beberapa dari mereka dan mengetahui bahwa mereka secara tulus peduli dengan saya dan saya secara tulus peduli dengan mereka. Beberapa kali saya bergantung pada mereka dan tidak akan pernah berhasil tanpa dukungan dan cinta mereka”

Pengalaman Dan dalam support group juga membantu dia keluar dari rasa malu:

“Pertama kali saya merasa khawatir untuk pergi ke suatu support group untuk masalah seksualitas pria. Tapi saya mengumpulkan seluruh keberanian saya dan memutuskan untuk datang. Saya pikir pria-pria itu tidak akan memahami masalah saya karena masalah mereka berbeda dari masalah saya. Tapi sejak pertemuan pertama, saya merasa seperti saya menemukan orang lain yang mengerti dimana saya dan apa yang saya rasakan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya tidak sendirian. Saya mendapati pertemuan ini sangat membantu, sehingga saya tidak melewatkan satu pertemuan pun, jika saya tidak keluar kota, selama lebih dari lima tahun. Beberapa pria memang menghadapi masalah yang berbeda, tapi saya menemukan bahwa kami semua menderita akibat penghargaan diri yang rendah dan hampir semua orang dalam grup ini mengalami suatu masalah yang berhubungan dengan ayahnya. Benar-benar membuka mata saya!”

Menemukan cinta dan penerimaan dari anggota keluarga dan teman memberikan pengaruh yang besar kepada kami semua.

John menceritakan:

“Saya mengirimkan delapan halaman surat kepada ibu saya menceritakan mengapa saya mencoba bunuh diri. Saya ceritakan kepadanya perjuangan rahasia saya menghadapi homoseksualitas dan pertentangan antara perasaan gay dengan nurani saya. Saya yakin bahwa begitu saya mengirim surat itu saya tidak akan pernah mendengar apapun lagi dari ibu saya. Sebaliknya, saya menerima jawaban yang sama sekali berbeda. Dia berkata, dia mencintai saya apapun yang terjadi…

“Kemudian saya bertemu keluarga Amerika di Arab Saudi yang menerima saya dalam rumah mereka. Mereka memancarkan rasa cinta dan kehangatan, yang saya rasakan hanya dengan bersama dengan mereka. Menghabiskan waktu dengan ayah dan anak, yang berusia dua puluhan, terasa seperti mengisi lubang dalam di diri saya yang merindukan penerimaan pria dan pertemanan. Saya menceritakan kepada sang ayah tentang perjuangan saya dengan homoseksualitas, dan dia merespon dengan cinta dan dukungan tanpa syarat. Dia melihat kebaikan dan suatu yang bernilai di dalam diri saya yang saya sendiri tidak dapat melihatnya.”

Kadang-kadang, rasa malu terasa hilang hampir secara spontan, apakah dari dalam diri sendiri – setelah berbalik kepada Tuhan, melalukan usaha terapi, atau membuka bagian tersembunyi dari diri kita kepada keluarga dan teman yang mendukung.

Kami menemukan rasa kebebasan yang datang dari menghancurkan beban kerahasian dan rasa malu seumur hidup dapat sangat menyenangkan. Sesungguhnya, ini hampir sama dengan apa yang dialami sebagian dari kami yang pernah “come out” sebagai gay. Tapi kami menemukan bahwa menerima dan mencintai diri kami apa adanya dan menghadapi ketakutan terhadap membiarkan yang lain tahu siapa kita, adalah suatu langkah awal dalam perjalanan panjang merubah hidup. Jika kami gagal pada langkah ini, perkembangan kami akan terhenti sebelum perubahan itu mulai berjalan.

Langkah 2

Mengalihkan Hidup dan Kemauan Kami kearah Tuhan

Kami menundukkan hati kami untuk berpaling kepada Tuhan. Kami belajar untuk menyerahkan kemauan kami kepada

kemauan-Nya, apapun itu, dan menjalani hidup kami sebagaimana yang Dia inginkan Jutaan orang telah menemukan jalan keluar dari alkohol dan ketergantungan lain bukan melalui pengobatan atau psikiater tapi dengan mengikuti penyembuhan “Duabelas Langkah”, dengan menekankan pada penyerahan hidup dan kemauannya kepada Tuhan.

Kami juga menemukan bahwa jalan untuk keluar dari homoseksual yang tidak diinginkan adalah suatu jalan yang sangat spiritual. Beberapa dari kami mengalaminya sebagai suatu perubahan religius yang signifikan atau pencerahan spiritual dimana kami merasakan cinta Tuhan dan bimbingan untuk hidup kami. Yang lain mengalaminya sebagai kedamaian spiritual yang datang dari pemulihan emosional, dari mencintai dan memaafkan diri kami sendiri dan yang lain, dari meruntuhkan tembok yang sekian lama telah menghalangi kami dari menerima cinta dari yang lain, dan dari belajar untuk benar-benar mempercayai Tuhan, kadang untuk pertama kalinya dalam hidup kami. Kedamaian, kebahagiaan dan hubungan dengan Tuhan ini tumbuh ketika kami mulai pulih secara emosional, membangun hubungan persaudaraan dengan pria lain, melepaskan segala bentuk nafsu, dan meraih identitas baru sebagai seorang pria heteroseksual.

Berikut beberapa perubahan yang banyak dari kami harus melakukannya agar pulih:

1. Kami membuka hati kami untuk suatu kemauan baru untuk melakukan apapun untuk membuat hidup kami benar bersama Tuhan, bagaimanapun kami memahami Nya, dan apapun yang tunjukkan kepada kami untuk kami lakukan.

2. Kami mulai menerima dan mempercayai kesaksian dari yang lain yang telah mengalami sendiri perubahan pada diri mereka. Begitu kami melakukannya, kami menemukan harapan baru bahwa perubahan adalah mungkin, menghasilkan dan bernilai.

3. Kami berhenti mencoba berubah melalui kekuatan kemauan kami sendiri, tanpa campur tangan Tuhan – atau, pada sisi sebaliknya, berhenti memohon kepada Tuhan untuk melakukan semua pekerjaan untuk merubah kami, tanpa kami harus melakukan sesuatu yang berbeda atau belajar sesuatu dari diri kami sendiri selama prosesnya. Sebaliknya, kami mulai melakukan program spiritual yang dapat dirangkum dalam Duabelas Langkah Alcoholics Anonymous dan yang lainnya (meskipun masing-masing dari kami melakukan langkah spiritual ini dengan cara yang berbeda dan melalui keyakinan yang berbeda)

“Kami mengakui bahwa kami tidak mempunyai kekuatan untuk mengatasi ketergantungan kami – bahwa hidup kami menjadi tidak teratur. Kami percaya bahwa suatu Kekuatan yang lebih besar dari kami dapat memperbaiki kami kearah kesucian.” (langkah pertama dan kedua)

“Membuat keputusan untuk merubah kemauan kami dan hidup kami kepada bimbingan Tuhan” (langkah ketiga)

“Membuat suatu pencarian inventaris moral tanpa rasa takut pada diri kami sendiri. Mengakui kepada Tuhan, kepada diri kami sendiri, dan kepada manusia lain kesalahan kami. Sepenuhnya siap menerima Tuhan untuk menghilangkan semua karakter yang salah. Dengan rendah hati memohon Tuhan menghilangkan kelemahan kami.” (langkah empat, lima, enam dan tujuh)

“Mencari melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kesadaran hubungan kami dengan Tuhan, berdoa untuk mengetahui keinginan Nya atas kami, dan untuk kekuatan dalam menjalankannya.” (langkah sebelas)

4. Banyak dari kami bergabung dengan komunitas agama untuk menikmati persaudaraan spiritual dan belajar dalam usaha terus menerus untuk menyerahkan keinginan dan hati kami kepada Tuhan. Untuk memperkuat kami, kami melakukan doa individual dan bersama, meditasi, serta belajar dan merenungi kitab suci.

Dengan rendah hati memohon pertolongan kepada Tuhan biasanya adalah suatu bagian awal, vital dan terus menerus dalam pemulihan kami. Dan bukanlah bagian akhir. Banyak dari kami masih mempunyai banyak hal untuk dilakukan untuk mengatasi perilaku yang merusak diri-sendiri dan keterasingan kami dari pria lain dan dari maskulinitas kami sendiri, sebagaimana masalah emosional lain yang menyebabkan hasrat homoseksual kami. Perubahan tidak semudah “berdoa untuk menghilangkannya”, tidak peduli kepercayaan apa yang kita miliki, selama kita masih terjebak dalam ketakutan, ketidakpercayaan, isolasi dan sakit hati, keengganan melakukan usaha yang menyakitkan untuk memulihkan jiwa kita dan hubungan dengan orang lain.

Tetapi suatu kehidupan spiritual yang diperbaharui menjadi energi yang memberi tenaga dalam perjalanan kami dan menunjukkan jalan kepada kami – suatu perjalanan ke arah identitas baru, jalan hidup baru, dan kehidupan baru.

Cell Group dilandasi percaya dan saling menguatkan

Menemukan Cinta Persaudaraan dan Pengakuan Maskulinitas dengan Pria Heteroseksual

Kami berusaha mengatasi ketakutan dan rasa iri kami kepada pria heteroseksual, sepenuhnya meraih sifat maskulin di dalam diri kami dan mencari cinta persaudaraan, kepercayaan, persahabatan, dan hubungan dengan pria heteroseksual yang kami kagumi.

Bagi kebanyakan dari kami, kerinduan yang kami identifikasi sebagai hasrat seksual sebenarnya dimulai jauh sebelum kami mengalaminya sebagai ketertarikan erotis. Itu adalah kerinduan yang setiap anak laki-laki rasakan untuk dicintai dan diperlukan oleh ayahnya, untuk merasa sebagai bagian dari mereka, dan untuk merasa percaya diri dalam identitas maskulinnya.

Dengan gelora yang ditimbulkan oleh hormon-hormon pada masa puber, sangatlah umum jika kerinduan yang dalam akan ikatan maskulin ini tanpa sengaja menjadi hasrat seksual di dalam diri kami. Merasa tidak mendapat cukup pengakuan cinta dan maskulinitas dari ayah, figur ayah, dan teman sebaya laki-laki selama tahun-tahun perkembangan kami, dan teryakinkan bahwa kami tidak akan pernah mendapatkan cinta dan penerimaan yang kami rindukan dari dunia pria hetero, segera kami mulai mengidamkannya dari seorang kekasih pria.

Tapi menjadikan pria sebagai obyek seksual – menghubungkan mereka sebagai kekasih – akan hanya memperdalam rasa keterasingan yang kami rasakan dari pria dan dari identitas maskulin kami sendiri. Tidak akan pernah mengisi kebutuhan sesungguhnya yang kami rasakan untuk terikat dengan pria sebagai saudara kita dan untuk mengalami cinta persaudaraan, sebagai seorang pria diantara pria.

Ketika kami menyadari bahwa perasaan homoseksual berakar dari kerinduan yang panjang seorang anak laki-laki dari keterikatan yang normal kepada pria dan kepada maskulinitasnya sendiri, jalan menuju pemulihan menjadi jelas. Menakutkan, tetapi jelas. Kami harus kembali dan menyembuhkan luka si anak tersebut dengan belajar untuk mencintai, mempercayai dan mengidentifikasikan diri dengan pria sebagai saudara. Kami tidak akan lagi menolak dorongan “reparatif” ini, tapi, kami akan mencoba memenuhi kebutuhan normal kami akan pengakuan dan hubungan dengan laki-laki normal.

Pemulihan maskulinitas berasal dari tiga area berikut : dalam keterikatan kami kepada naluri kelelakian di dalam diri kami, dalam persaudaraan yang terus tumbuh dengan individual pria yang lain, dan dalam suatu perasaan baru bahwa kami adalah milik alam maskulin atau komunitas pria yang lebih luas.

Berikut beberapa perubahan yang banyak dari kami harus melakukannya agar terhubung dan terkenali dengan pria hetero dalam cara yang baru dan positif:

1. Kami mencoba mengenali “heterophobia” yang banyak dari kami memilikinya di dalam diri kami – Prasangka kami yang dalam terhadap pria hetero dan ketakutan kami terhadap sebagian besar dari mereka. Kami mencoba melihat bagaimana ketakutan, prasangka dan disasosiasi ini telah menciptakan jurang yang dalam yang memisahkan kami dari mereka, yang kemudian menyebabkan kami iri dan meromantisir mereka dari jauh akan maskulinitas yang kami lihat di dalam diri mereka tapi tidak pernah kami lihat dalam diri kami sendiri. Kami mencoba untuk melihat bagaimana kami juga menolak maskulinitas itu sendiri – atau persepsi kami yang penuh prasangka atas nya – dan malah kami mundur mengasingkan diri ke alam feminin yang terasa aman dan familiar.

Kemudian, secara aktif kami berusaha untuk membuang dari hidup kami citra pria yang stereotip, penuh prasangka, dan negatif yang telah menjerat kami dalam suatu hubungan cinta-benci-takut-iri terhadap mereka. Kami berusaha dengan sadar untuk melihat kebaikan di dalam pria hetero dan di dalam maskulinitas heteroseksual.

2. Pada saat bersamaan, kami berusaha merobek sosok ideal dari pria tertentu yang banyak dari kami telah meletakkannya di altar pemujaan: pria dengan tubuh yang kami anggap ideal, pria dengan sosok atletis, atau sifat apapun lainnya yang kami idolakan dan iri akannya dari pria lain, dan gambar-gambar pria di majalah dan media lain yang tubuh Adonis nya sangat kami puja.

Kami berusaha melihat bahwa meletakkan pria-pria ini di pemujaan telah menjadikan mereka bukan manusia, menjadikan mereka subyek dari kecemburuan dan nafsu kami, dan menyebabkan kami menurunkan nilai kami terhadap mereka.

Sebaliknya, kami berusaha melihat jiwa sebenarnya dari pria nyata di dunia, kelemahan dan kekuatan mereka, perjuangan dan ketakutan mereka. Semakin kami menghancurkan pemujaan itu, semakin kami dapat melihat kesamaan yang kami miliki dengan semua pria sebagai saudara kami.

3. Kami belajar untuk mempercayai pria lain dengan mengambil resiko yang telah diperhitungkan dengan membagi rahasia kami dengan pria yang kami pilih dengan hati-hati, penuh perhatian dan dapat dipercaya, terutama pria yang kami kagumi yang tampak kokoh dalam heteroseksualitas mereka Kami meminta dukungan mereka dan keterlibatan secara aktif dalam hidup kami dengan cara yang spesifik dan berarti Dengan melakukannya, kami menciptakan suatu jaringan dari anggota keluarga, teman, konselor, mentor dan role model yang mempercayai kami dan kemampuan kami untuk berubah dan yang dapat membantu kami melakukannya.

4. Sebagai bagian penting dari jaringan pendukung kami, kami membangun hubungan dengan mentor dan konselor yang menjadi role model kami untuk maskulinitas heteroseksual yang sehat. Kami membuat diri kami dapat diandalkan bagi mereka dan mencari kebijaksanaan, bimbingan dan pengakuan dari mereka. Bersamaan dengan itu kami belajar memaafkan,

mempercayai, mencintai, mengatasi ketakutan dan sensitivitas yang berlebihan, dan membangun suatu identitas maskulin yang kuat di dalam diri kami.

5. Banyak dari kami mengikuti suatu komunitas dari pria hetero (kelompok gereja, organisasi persaudaraan, grup 12 langkah, kelompok pelayanan atau kelompok pria yang lain), dimana kami dapat belajar untuk merasa aman dan berada di rumah sendiri sebagai pria di antara pria dan menerima pengakuan dari diri kita sendiri sebagai pria. Bagi banyak dari kami, ini adalah yang pertama kalinya dalam hidup kami merasakan kegembiraan benar-benar menjadi bagian dari komunitas pria.

6. Mengenali bagaimana kami menderita dari “kehilangan sentuhan”, banyak dari kami belajar untuk memenuhi kebutuhan kami akan hubungan fisik platonik (persaudaraan) dengan pria melalui olah raga atau kegiatan fisik lainnya, pemijatan terapi, atau dengan meminta dan menerima pelukan non-seksual dan sentuhan yang pantas lainnya dari teman pria heteroseksual, mentor dan anggota keluarga.

7. Kami meraih maskulinitas dalam diri kami, pada tingkat terdalam yang memungkinkan, dengan mengenali, mengakui dan menunjukkan sifat maskulin kami dan membuka mata kami untuk mengetahui bagaimana pria yang lain melihat dan mengakui maskulinitas dalam diri kami juga. Kami dengan sadar berusaha melepaskan keyakinan yang salah yang telah menurunkan nilai kami atas manifestasi individual terhadap maskulinitas, sementara menilai terlalu tinggi terhadap bentuk maskulinitas pria lain pada titik kecemburuan.

8. Tanpa menyangkal kepentingan kami sendiri, kami menumbuhkan naluri kelelakian dengan melakukan lebih banyak hal yang kebanyakan pria melakukannya dan lebih sedikit hal yang kebanyakan pria tidak melakukannya. Kami menjelajahi dunia maskulin dengan berpartisipasi dalam kegiatan dengan pria lain yang kami pernah sangat takut untuk mencoba. Sepanjang perjalanan, kami belajar untuk mentertawakan diri sendiri dan merasakan kesenangan mengeksplorasi maskulinitas yang sehat dan menantang diri kami sendiri dalam alam maskulin.

9. Kami memisahkan diri dari kegiatan dan hubungan yang menyebabkan kami terlalu mengidentifikasi diri kami dengan wanita dan dunia mereka dan untuk berhubungan dengan mereka sebagai saudara. Kami dengan sadar berusaha untuk tidak mengidentifikasi diri dengan wanita ketika kami berusaha untuk mengidentifikasi diri dengan pria. Singkatnya, kami akhirnya memutuskan tali pengikat dari feminitas yang kami anggap sebagai tempat yang aman.

10. Kami mengambil dunia maskulin sebagai suatu tempat yang terhormat, keutuhan dan penghormatan, dan mengklaim tempat kami di dalam lingkaran pria.

Pada akhirnya, kami mampu membangun cinta persaudaraan yang dalam dengan pria lain dengan membangun persahabatan yang berarti, saling mempercayai dengan pria hetero dan belajar untuk menerima dan membalas cinta mereka sebagai saudara. Dengan ketakjuban dan kegembiraan, kami menemukan bahwa ketika kami dapat membangun persahabatan yang sangat otentik, keakraban emosional bukan romantis, dan platonik dengan pria hetero, hal itu ternyata jauh lebih memulihkan dan memelihara daripada pengalaman homoseksual kami.

Dalam komunitas pemulihan menjadi lebih baik

Mengatasi Masalah yang Mendasari, Menghadapi dan Menyembuhkan Luka yang Terkubur

Kami mengklaim kembali kekuatan personal kami untuk mengarahkan hidup kami sendiri dan, ketika kami siap, memulai suatu “perjalanan kedalam” dengan penuh keberanian untuk mengungkap dan secara jujur menghadapi luka, ketakutan, kebencian, sakit hati dan keyakinan yang tersembunyi di bawah gejala homoseksual kami.

Kami mengakui dan kemudian melepaskan luka lama, membuang keyakinan yang merusak, memaafkan yang lain dan mencari pemaafan dari kita sendiri.

Perjalanan keluar dari homoseksualitas adalah perjalanan kedalam, perjalanan untuk menemukan sendiri, memperbarui dan membangun kembali.

Ini bukanlah perjalanan kekuatan kemauan atau perubahan yang dipaksakan. Ini adalah perjalanan pemulihan.

Semua ini bisa menjadi menakutkan. Tapi kami tahu bahwa seorang pria pemberani bukanlah pria tanpa rasa takut; pria pemberani adalah orang yang melakukan apa yang ia takutkan. Mungkin hal yang paling menantang yang akan kami lakukan adalah menghadapi ketakutan yang paling dalam, mengungkap dan memulihkan luka di bawahnya dan keterasingan dari pria yang menyebabkan gejala homoseksual kami.

Dan kami harus belajar untuk berlari ke arah ketakutan kami. Tidak lagi kami mengangkat tangan dan berkata “Memang beginilah kami adanya”, “Saya dilahirkan seperti ini”, atau “Tidak mungkin untuk berubah dan berbahaya untuk dicoba”. Tidak lagi kami menolak untuk melihat pada diri kami sendiri dan lingkungan kami pada masa lalu yang menyebabkan kami berhasrat kepada pria. Tidak lagi kami menjadi korban pasif dari keadaan, lari dari ketakutan kami, meminta semua orang di sekitar kami untuk berubah sehingga kami tidak harus berubah.

Berikut beberapa perubahan yang banyak dari kami harus melakukannya demi pemulihan:

1. Pertama, kami harus mengklaim kekuatan dari dalam untuk merubah hidup kami – bukan cukup hanya dengan “keinginan untuk membuang” atau bahkan berdoa untuk membuang ketertarikan homoseksual, tetapi kami dapat menetapkan jalur hidup kami sendiri dan memilih tindakan dan keyakinan pemulihan dan penyembuhan jika kami menginginkannya. Kami bersedia untuk bertanggungjawab atas perilaku, keyakinan dan perasaan kami, dan tidak lagi beranggapan bahwa memiliki dorongan atau kerinduan tertentu mengharuskan kami untuk menurutkannya. Kami membebaskan diri dari sikap pasif, menolak untuk tidak lagi menjadi korban keadaan atau korban dari emosi kami sendiri. Kami berusaha mengetahui arti sebenarnya dari Doa Ketenangan:

“Tuhan, anugerahilah kami ketenangan untuk menerima hal yang tidak dapat kami ubah, keberanian untuk merubah hal yang bisa kami ubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya”

2. Kami dengan berani memutuskan untuk menggali di bawah permukaan untuk mengungkap luka, ketakutan, kebencian, sakit hati, kesendirian dan keyakinan yang tersembunyi di bawah gejala homoseksual kami – akar masalah yang menyebabkan kami mengalami kerinduan yang tak terbalas untuk dicintai dan diinginkan oleh pria.

3. Seringkali, perjalanan kedalam kami dimulai dengan “terapi buku” – membaca, atau lebih tepatnya merenungi, buku-buku yang sehat, membangun dan menguatkan. Kami mempelajari proses pengakuan dan identitas gender, penyembuhan dari homoseksualitas, penyembuhan dari ketergantungan seksual atau pelecehan seksual, perkembangan spiritual, pemahaman akan pria heteroseksual dan maskulinitas, dan banyak lagi. Kami sering berdoa dan bermeditasi selama kami membaca, dan ketika isi tulisan itu membunyikan suatu nada di dalam diri kami yang beresonansi dengan kebenaran – atau memicu ketakutan – kami tahu bahwa kami telah menemukan petunjuk penting untuk usaha pemulihan kami.

4. Banyak dari kami mengikuti konseling atau terapi, terutama terapi reparatif, dengan konselor yang mengerti dan mendukung pandangan kami atas kondisi homoseksual yang tidak diinginkan dan kebutuhan kami atas identitas dan pengakuan gender. Kami menemukan terapi akan sangat membantu jika dilakukan dengan seorang konselor pria yang memiliki sifat maskulin yang kami kagumi, yang kuat dalam maskulinitas heteroseksualnya sendiri, mendukung kami dalam tujuan kami untuk meraih identitas maskulin heteroseksual yang kuat dan lebih banyak, memberanikan kami untuk menetapkan agenda kami sendiri untuk terapi, dan membantu kami untuk membangun suatu hubungan yang sehat dengannya sebagai mentor, pembimbing dan partner dalam perjalanan kami ke dalam dunia pria.

5. Beberapa dari kami melakukan inventarisasi dari seluruh struktur keyakinan dalam hidup kami, mengenali keyakinan yang melayani kami dengan baik dan keyakinan yang merusak. Kami mulai untuk secara aktif berusaha melepaskan keyakinan yang melukai kami – terutama penghakiman kami atas diri kami sendiri dan atas pria secara umum – begitu juga kebencian lama yang kami tujukan kepada seseorang yang kami rasa melukai kami.

6. Bersandar pada jaringan yang baru kami bentuk atas teman, mentor dan konselor profesional untuk mendukung dan menguatkan, kami mulai memulihkan luka yang terkubur dalam dengan mengetahui, mengakui dan dengan jujur merasakan ketakutan, kesedihan, kemarahan, ketidak percayaan, kebencian dan emosi yang terkubur lainnya yang membuat kami tetap terperangkap. Ketika perasaan-perasaan itu diekspresikan dengan penuh dan “dihargai” sebagai luka yang telah merusak kami, kami kemudian (dan hanya setelahnya) akhirnya mampu menyerahkan dan melepaskannya.

7. Kami memaafkan tanpa syarat mereka yang kami rasa telah bersalah terhadap kami, dan dengan demikian membebaskan kami dari luka dan kebencian yang sekian tahun kami simpan dalam botol.

8. Ketika kami cukup kuat, kami melakukan inventarisasi hal-hal yang pernah kami lakukan yang melukai orang lain – atau ketika kami menolak dan menghakimi orang lain dan menciptakan hubungan yang kosong, tanpa arti, bahkan merusak. Jika memungkinkan untuk dilakukan, kami mengakui kesalahan kami kepada mereka yang telah kami lukai dan membuat perbaikan, tanpa mengharapkan balasan.

Langkah 5

Melepaskan Obsesi, Kecemburuan dan Birahi

Kami berhenti menuruti nafsu kami dan berhenti terobsesi dan mencemburui pria lain. Ketika kami menarik diri dari kebiasaan birahi kami, kami menghampiri mentor atau partner “yang sadar” untuk mendukung dan membuat kami dapat diandalkan bagi mereka. Kami belajar untuk melepaskan daripada memerangi nafsu. Kami belajar untuk mengerti siklus nafsu kami dan memenuhi kebutuhan yang mendasarinya bukan menolaknya. Kami memisahkan diri kami dari pemicu dan penghubung ke arah homoseksualitas kami sebelumnya.

Jika kami tidak mampu merubah orientasi seksual kami tapi telah mampu melepaskan secara keseluruhan obsesi, kecemburuan, dan nafsu kami, hal itu telah menjadi suatu kemenangan yang hebat. Hal itu pastilah telah menyembuhkan gejala yang paling buruk, paling tidak, yang telah sangat menyusahkan kami dalam perjuangan homoseksual.

Tapi kami berhasil menyelesaikannya bahkan lebih. Semua usaha kami untuk menerima diri kami sendiri, mengarahkan hidup kami kepada Tuhan, memperbaiki ikatan yang rusak dengan pria hetero dan maskulinitas, dan memulihkan “jiwa pria” di dalam diri kami berjalan sepanjang jalur untuk memulihkan masalah yang mendasari yang menciptakan gejala nafsu kami.

Meskipun demikian, kebanyakan dari kami telah mengkondisikan diri untuk merespon secara erotis terhadap figur pria sekian lama sehingga menghentikan hasrat homoseksual mungkin paling tidak sama susahnya dengan menghentikan merokok, minuman keras atau obat-obatan. Tapi, sebagaimana juga dalam mengatasi ketergantungan yang lain, kami mendapati bahwa sesungguhnya mungkin untuk mengatasi nafsu.

Beberapa dari kami menemukan bahwa menghentikan hubungan dan perilaku homoseksual adalah langkah awal yang penting dalam perubahan kami, untuk mulai terlepas dari kecanduan seks, menjadi terbebas dari depresi, dan menjadi lebih peka untuk merasakan cinta dan bimbingan Tuhan.

Yang lain dari kami menemukan kami tidak akan siap untuk melepaskan diri dari kekasih, teman, tempat, dan kebiasaan gay sampai kami tumbuh melalui proses penerimaan diri dan pemulihan jiwa, hubungan dengan Tuhan, dan hubungan dengan pria hetero dan maskulinitas.

Sesungguhnya, tidaklah mengejutkan untuk mendapati meningkatnya hasrat homoseksualitas secara temporer selama tahap-tahap awal usaha perubahan. Itu tidak mengejutkan, karena hasrat homoseksual adalah dimana banyak dari kami menemukan kenyamanan dan pelipur lara ketika kami takut dan tidak nyaman – suatu program perubahan dan pemulihan yang sukses dapat menjadi menakutkan dan tidak nyaman!. Sebaliknya, kami merubah tindakan, reaksi, cara pandang, pemikiran, sistem keyakinan, perasaan dan keberadaan kami di dunia.

Tapi pendekatan manapun yang kami ambil – mulai menarik diri dari hubungan dan perilaku homoseksual di awal, atau melakukannya kemudian selama proses – akan datang waktunya ketika kami siap melepaskan kehidupan homoseksual di belakang kami. Banyak dari kami mendapati itu sangat menakutkan. Beberapa dari kami mengalami kesedihan yang dalam dengan melepaskan beberapa hubungan dan kegiatan yang, terus terang, kami nikmati. Kami ragu akan kemampuan kami untuk menerima perubahan dan bahkan memikirkan kembali tentang “kesempatan” yang akan kami lewatkan …. memimpikan hubungan khayal yang mungkin suatu saat akhirnya akan terasa benar dan membawakan kami kebahagiaan sebenarnya…. dan khawatir akan kemampuan kami untuk mengatasi hidup tanpa pornografi, seks gay atau nafsu yang lain.

Namun, inilah yang kami ketahui: Hidup kami tidak berjalan seperti biasanya. Nafsu tidak memberikan kami cinta. Identitas dan kehidupan homoseksual tidak memberikan kami pemulihan. Kami tidak menyukai apa yang akan kami dapat. Kebanyakan dari kami tidak merasa terpenuhi atau bahagia sebagai “gay”

Berikut beberapa perubahan yang kebanyakan dari kami harus melakukannya agar pulih:

1. Kami belajar bahwa kami tidak dapat berubah dalam kerahasiaan tanpa bantuan orang lain. Maka salah satu dari langkah awal yang paling penting bagi kebanyakan kami adalah untuk menciptakan suatu jaringan dukungan personal yang terdiri dari mentor, grup 12 langkah, teman atau rekan “yang sadar” yang dapat ada untuk kami ketika kami membuat perubahan yang dramatis ini dalam hidup kami.

Kami meminta mereka untuk mengijinkan kami untuk membuat kami dapat diandalkan bagi mereka dan dapat memanggil mereka ketika kami merasa lemah. Kami secara terus terang menceritakan perjuangan, ketakukan, dan godaan kami dengan mereka Beberapa dari kami bergabung dengan grup Duabelas Langkah untuk sembuh dari kecanduan seks, support group “ex-gay” yang berdasarkan agama, kelompok pria pendukung dan lainnya.

2. Mengakui bahwa mencemburui maskulinitas pria lain – apa yang kami terlalu sering rasakan tidak ada pada diri kami – akan menggerakkan nafsu dan obsesi kami, kami meneruskan usaha kami untuk melepaskan rasa malu, mengurangi penghakiman atas diri kami sendiri, dan meningkatkan rasa hubungan dan rasa dimiliki dalam dunia pria.

3. Kami melepaskan ikatan dari masa lalu homoseksual kami. Kami tidak melanjutkan hubungan dan kebiasaan homoseksual, membuang buku-buku, majalah, video, dan material lain yang merusak, dan meletakkan diri kami diluar lingkungan yang dapat menggoda kami untuk kembali kepada hal itu.

4. Kami melakukan setiap usaha untuk berhenti menuruti nafsu dengan gambar-gambar dan fantasi. Beberapa dari kami memetakan siklus nafsu kami di atas kertas untuk membantu kami mengenali kejadian, perasaan dan tekanan dalam hidup kami yang seringkali memicu nafsu dan kerinduan akan kenyamanan pria. Kami membagikan peta ini dengan mentor kami dan mengidentifikasi langkah praktis untuk memutuskan siklus tersebut.

5. Daripada mencoba menghentikan perilaku dan pemikiran yang merusak, kami memilih untuk secara proaktif menggantikannya dengan hal yang baru dan lebih sehat Kami belajar menyerahkan nafsu kami kepada Tuhan, memohon kepada Tuhan untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa kami lakukan sendiri. Kami mencoba mengganti perasaan seksual terhadap pria dengan cinta persaudaraan yang sehat dan pandangan yang lebih berketuhanan atas diri kami sebagai pria

Ketika tergoda, kami belajar untuk mengangkat telepon dan memanggil mentor, mengakui perjuangan kami, dan menghubungkan diri dengan kenyataan cinta persaudaraan menggantikan fantasi akan nafsu homoseksual. Sejalan dengan waktu, banyak dari kami menemukan bahwa hubungan otentik ini menjadi lebih memuaskan daripada nafsu

Kami mempraktekkan jalan baru lain untuk merespon pemicu nafsu kami, seperti latihan fisik (terutama dengan teman pria), hubungan emosional yang berarti dengan pria, pemijatan terapi, doa, dan banyak lagi.

6. Kami mencoba mengenali dan menghormati kebutuhan logis kami akan keterikatan fisik dan emosional dengan pria lain dan mulai berusaha secara proaktif untuk memenuhi kebutuhan yang mendasarinya daripada menolaknya. Kami membangun suatu program proaktif untuk memastikan bahwa keinginan akan hubungan dengan pria ini dipenuhi secara teratur dengan hal yang sehat, bukannya menekannya hingga kami merasa sangat dahaga akan kasih-sayang dan pengakuan pria sehingga kami akan melakukan apa saja untuk memenuhinya.

7. Kami menetapkan untuk tetap berada pada pendirian kami tidak peduli berapa kali kami jatuh, teryakinkan oleh kepercayaan kami sendiri dan pengalaman orang lain bahwa selama kami tidak pernah menyerah, suatu saat kami akan terbebas dari nafsu yang telah menguasai hidup kami begitu lama.

Sangat jelas, bahwa ini bukanlah proses yang mudah. Begitu pula dalam usaha lain untuk mengatasi obsesi atau kecanduan yang menguasai hidup seseorang. Seperti anda dapat lihat, proses ini jelas bukan mengenai kekuatan kemauan, meskipun kekuatan kemauan dapat membantu kita lepas dari godaan individual.

Pemulihan yang sesungguhnya dari nafsu datang bukan dari kekuatan kemauan tapi dari kekuatan hati – kekuatan dari hati, bukan akal, untuk menimbulkan perubahan yang kuat. Perubahan hati ini akan menghasilkan ketika kami memilih hasrat yang sehat, keluar dari kerahasiaan dan menjadi sepenuhnya jujur tentang pemikiran dan tindakan kami kepada mentor yang

kami percayai, memenuhi kebutuhan jiwa dengan cinta tanpa syarat dari Tuhan dan cinta persaudaraan dari yang lain, dan secara konsisten berusaha menyerahkan kemauan kami kepada Tuhan

Langkah 6

Sepenuhnya Meraih Maskulinitas Heteroseksual… Dan Identitas yang Sepenuhnya Baru

Kami meninggalkan identitas gay kami yang lama dan meraih suatu identitas baru sebagai seorang pria di antara pria.

Pasti, tidak ada diantara kami memilih untuk memiliki ketertarikan homoseksual yang menyebabkan kami mengalami kekacauan. Tapi kami semua memilih bagaimana kami akan merespon terhadapnya. Dan satu tempat yang kami temukan dapat dirubah atas kebebasan memilih adalah membangun identitas individual kami.

Secara sadar atau tidak, kami memilih identitas kami sendiri sepanjang hidup kami. Kami bisa membangun identitas personal berdasarkan bakat, kemampuan dan kesenangan kami, dimana kami berada, agama kami atau berdasar karir kami. Ketika kami tumbuh sejalan dengan kehidupan dan merubah keadaan, atau memberi penekanan pada beberapa dan mengurangi penekanan pada yang lain, identitas kami bergeser.

Sayangnya, pada suatu tempat sepanjang perjalanan, kebanyakan dari kami membangun identitas sebagai seorang yang berjuang dengan homoseksual, seorang gay, seorang yang penuh nafsu, seorang pria yang tidak mampu, atau seseorang dengan rahasia yang memalukan. Kami membiarkan perjuangan dan kelemahan kami membentuk identitas kami. Tapi kami menjadi siap akhirnya untuk merubah hal itu – untuk berhenti menjadi korban keadaan dan untuk sebaliknya dengan sadar memilih identitas yang ingin kami ciptakan.

Sekarang dengan lebih banyak nilai-nilai spiritual, dengan jiwa yang telah lebih terpulihkan, dengan lebih banyak hubungan dengan pria heteroseksual dan maskulinitas, dan lebih bebas dari nafsu, banyak dari kami menjadi siap untuk membuat perubahan seperti yang berikut untuk mendapatkan suatu identitas baru:

1. Kami secara sadar meningggalkan identitas gay kami yang lama. Mengenalinya, dalam banyak cara, kami menjadi apa yang kami pikirkan dan lakukan, kami memelihara identitas ini dengan mengganti attribut, pakaian, cara berbicara, perangai dan kesenangan homoseksual dengan hal yang lebih mengarah ke heteroseksual. Kami mengganti “gay pride” menjadi “guy pride”, menemukan kesenangan baru dalam merasa sebagai bagian yang pria akhirnya, biasanya untuk yang pertama kalinya dalam hidup kami. Kami mencampakkan hal hal dan kegiatan yang mungkin telah mengikat kami dalam identitas kami yang lama.

2. Kami memilih suatu identitas baru yang lebih maskulin untuk diri kami bukan berdasarkan perasaan seksual atau perjuangan kami sama sekali, tapi berdasarkan kekuatan kami, spiritual kami yang terus tumbuh dan kepercayaan diri kami dalam kelelakian yang terus tumbuh.

3. Kami memusatkan, juga, pada perubahan kehidupan pemikiran kami. Kami melepaskan fantasi erotis dan melatih diri kami untuk mengalihkannya secara spontan ke hal lain bukannya berkutat di dalamnya.

4. Kembali ke masa kanak kanak, pada suatu tahap penting pembentukan dimana anak laki-laki secara normal memodelkan dirinya sesuai dengan pria yang lebih tua (suatu tahap yang kami lewatkan atau hindari), kami memilih role model pria heteroseksual yang kami kagumi dan mengamati bagaimana mereka berhubungan dengan pria dan wanita lain. Kami memodelkan diri kami berdasarkan mereka dan meminta kami sendiri dan mentor kami pertanyaan tentang bagaimana pria berpikir, bertindak dan merasakan.

Ketika kami melihat kesamaan yang ada dengan pria heteroseksual lain, memahami mereka lebih baik, dan menemukan mereka tidak lagi terlalu misterius, kami bisa terus meningkatkan identifikasi kami dengan mereka.

5. Pada sekitar tahap ini dalam pemulihan kami, ketika kami telah berada di dunia pria heteroseksual dan cukup bebas dari nafsu, banyak dari kami menemukan perhatian kami berbelok ke hubungan dengan wanita. Mereka yang telah menikah sebelum memulihkan masalahnya sekarang mampu memberikan kepada istrinya perhatian dan kasih-sayang yang lebih dan menemukan kesenangan yang lebih besar dalam melakukannya. Terus mengandalkan mentor dan role model untuk umpan balik dan dukungan, kami terfokus pada meningkatkan perhatian pada pemulihan dan penguatan pernikahan kami

Mereka yang masih sendiri mulai bersosialisasi dan kelompok pria-wanita, melakukan double-date dengan pasangan lain dan sebaliknya bersosialisasi dalam lingkungan pria-wanita yang tidak mengancam.

Pemberanian dan pengakuan dari mentor dan yang lain dalam jaringan pendukung kami terus menjadi hal yang vital ketika kami mengeksplorasi kesenangan dari identitas heteroseksual yang baru timbul

Ketika kami merasa sebagai pria, kami mampu untuk menemukan pengakuan dan kegembiraan maskulin lebih banyak dalam identitas kami sebagai suami (atau calon suami) dan ayah (atau calon ayah). Mengalihkan perhatian kepada wanita membuat kami merasakan identitas pria yang lebih kuat. Kami menemukan ketertarikan kami kepada pria berbelok ke arah rasa senang dalam persaudaraan dan berbagi identitas dengan mereka, dan ketertarikan kami kepada wanita bertambah ke arah romantis atau seksual.

6. Pada beberapa titik, kebanyakan dari kami merasa sebagai pria yang sepenuhnya baru, lebih percaya diri, lebih kuat secara emosional, lebih spiritual, lebih terhubung dengan maskulinitas heteroseksual, bebas dari nafsu yang pernah mengendalikan kami. Memang, kami melihat diri kami dengan identitas yang sepenuhnya baru.

7. Mengalami kesenangan atas perubahan dramatis ini, masing-masing dari kami mendedikasikan hidup kami untuk menjadi terhormat, kuat, penuh dengan cinta persaudaraan. Kini, kami sepenuhnya meraih peran maskulin kami sebagai suami, ayah, anak, saudara,hamba Tuhan yang telah menunjukkan jalan ke kebebasan.

GOOD LUCK untuk perubahan baru anda………………

Sumber : gayvision.blog.com (by valentinogery)

Dari data Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2010, tercatat kurang lebih 1.496.721 guru di Indonesia yang harus menjalani penyesuaian pendidikan, dan jumlah itu bisa bertambah saat ini. Terutama karena mereka belum berstatus Sarjana Strata 1. Jumlah tersebut adalah 51% dari jumlah total keseluruhan guru yang ada di Indonesia.  Dari jumlah tersebut kurang lebih 1.210.000 di antaranya adalah mereka yang sebenarnya sudah memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun.

Konsep penyetaraan strata akademis memang perlu dilakukan, namun dengan cara mengikutkan guru pada jenjang perkuliahan regular menurut saya) sungguh tidak praktis dan merugikan banyak pihak.

Sebagai gambaran, guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar lebih 5 (lima) tahun, sudah semestinya memiliki pengetahuan mengajar sebanding atau bahkan lebih dengan guru baru yang memiliki gelar sarjana, sehingga dirasa mubazir bila mereka juga harus mengikuti perkuliahan yang regular, karena sebagian besar ilmu yang akan mereka dapat adalah materi yang sudah mereka miliki.

Pak Sarjono, seorang guru SD saat ini berusia 46 tahun, terpaksa mengikuti penyetaraan dan ikut kuliah regular pada sebuah universitas yang memang ditunjuk. Jenjang yang harus ditempuh  pak Sarjono memang mulai dari penyetaraan D2 yang telah ia jalankan sebelumnya. Bila memang mulus jalan kuliahnya, ia akan mendapat gelar kesarjanaannya ketika ia berusia 49 tahun, padahal ia akan harus mulai bebas tugas ketika ia berusia 54 tahun nantinya.  Itu berarti strata kesarjanaan pak Sarjono hanya dibutuhkan secara efektif selama 3 sampai 4 tahun masa kerjanya saja.

Bila secara kasar setiap guru tersebut bertanggung jawab terhadap masing-masing 30 (tigapuluh) murid saja maka, sejumlah 36.300.000 (tigapuluh enam juta tigaratus ribu) siswa Indonesia sungguh dirugikan dengan program penyetaraan ini setiap tahunnya, karena dalam kenyataannya, guru-guru yang mengikuti penyetaraan ini fokus perhatiannya menjadi terbelah, antara harus konsentrasi pada kuliah dan tugas mengajarnya. Walau memang mereka melakukan kegiatan perkuliahan pada waktu di luar jam kerja, tetapi tetap saja hal tersebut mengganggu konsentrasi tugas mengajarnya.

Agar program penyetaraan ini tidak cenderung  dirasakan oleh banyak pihak sebagai proyek penghabisan anggaran yang tidak sangat efektif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia, maka memang perlu kiranya pemerintah merubah konsep penyetaraan ini dengan modul yang lebih praktis misalnya dengan sertifikasi penyesuaian golongan dan jabatan misalnya, sehingga mereka tidak terlalu banyak beban pemikiran.

Posted by: grahita | August 31, 2011

Pria dengan Buah Dada Terbesar Di Dunia

BEIJING – Seorang petani China, Guo Feng, 53, terpaksa menerima rawatan di Rumah Sakit Dada Jinan karena dia memiliki buah dada terbesar di dunia sehingga sering mengganggu tugas hariannya, demikian seperti yang dirilis beberapa media di China.

Lelaki itu mengatakan bahwa, buah dadanya mulai membesar 10 tahun lalu dan keadaan tersebut menyebabkan banyak kalayak ramai membicangkan dirinya. Dan penduduk dari berbagai penjuru daerah sanggup antri dan berbaris menunggu giliran, hanya untuk melihat keanehan yang terjadi pada pria tersebut. Mereka  memaksa Feng (demikian nama pria ini) untuk selalu memakai baju tebal selama ia berada diluar rumahnya, karena dia didakwa membuat onar bagi masyarakat setempat. Tentu hal tersebut sangat membuat tidak nyaman bagi Feng. Feng sudah berusaha kemana-mana untuk memperbaiki keadaannya. “Saya sudah pergi dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, namun tak satupun yang sanggup membantu memperbaiki keadaan ini” demikian katanya. Sampai pada suatu saat seorang doktor, Zhang Lilan dari Rumah Sakit Dada Jinan sanggup membantunya. (Sumber: kosmo.com)

Posted by: grahita | August 30, 2011

Daging disimpan sejak PDII,ternyata Masih Enak Dimakan

STOCKHOLM – Seorang pria mengkonsumsi daging yang diyakini berasal dari era Perang Dunia II. Namun, dia mengaku kalau daging itu tidak menyebabkanya keracunan.

“Daging itu tidak bau, bahkan tidak berbau busuk sama sekali. Malah daging ini seperti daging yang sudah disimpan selama sepekan. Tetapi rasanya memang tidak enak,” ungkap Eskil Carlsson kepada Surat Kabar The Local, Selasa (30/8/2011).

Carlsson menjelaskan daging itu berasal dari tahun 1939 atau 1940, di saat Swedia dilanda bencana kelaparan dan Perang Dunia II membuat keadaan menjadi lebih sulit.

“Mertua saya punya kenalan di sebuah peternakan dan membeli tiga kilogram daging sapi dan meletakannya di dalam toples yang memiliki tutup karet. Toples itu kedap udara,” jelas Carlsson.

Toples yang terbuat dari kaca itu dibiarkan saja usai perang berakhir. Keluarga Carlsson saat itu sengaja menyimpan toples berisi daging tersebut, karena khawatir perang seperti Perang Dunia II kembali terjadi.

Carlsson menjelaskan toples kaca itu kemudian dipindahkan ke rumah keluarganya saat mereka pindah ke kota Eskiltuna, di sebelah timur Swedia. Ketika istrinya meninggal, Carlsoon memutuskan untuk melihat isi toples tersebut setelah lebih dari 70 tahun disimpan.

”Saya kira waktu 70 tahun sudah cukup untuk menyimpang isi toples itu. Bila bocor, tentunya isinya akan rusak, untuk membukanya dan mengundang tetangga saat membuka toples itu,” ucapnya.

Meski sudah mendapat jaminan dari petugas medis bahwa daging tersebut tidak beracun, Carlsson tetap waspada. Dirinya pun menjadikan kucingnya sebagai kelinci percobaan. Untung saja, kucing itu selamat usai memakan daging tersebut.

Ketika tidak terjadi apa-apa atas kucingnya, Carlsson pun langsung memakan daging bersama dengan para tetangga.
(faj) Sumber: okezone.com

Posted by: grahita | August 24, 2011

Mengenal Lebih Dekat tentang Panda

 Panda Besar (Hanzi: 貓熊;; pinyin: mao xiong), Ailuropoda melanoleuca (“Kaki-kucing hitam-putih”) atau diringkas Panda, adalah seekor mamalia yang biasanya diklasifikasikan ke dalam keluarga beruang, Ursidae, yang hewan asli Tiongkok tengah. Panda Besar tinggal di wilayah pegunungan, seperti Sichuan dan Tibet. Pada setengah abad ke-20 terakhir, panda menjadi semacam lambang negara Tiongkok, dan sekarang ditampilkan pada uang emas negara tersebut. Nama China-nya berarti “kucing-beruang,” dan juga bisa dibaca dibalik tanpa mengubah arti. Ia dinamai panda di Barat karena mirip dengan Panda Merah, dan dulunya dikenal sebagai Beruang Belang (Ailuropus melanoleucus). Meskipun secara taksonomis ia adalah karnivora, makanannya seperti herbivora, sebagian besar tumbuh-tumbuhan, hampir hanya bambu saja. Secara teknis, seperti banyak hewan, panda adalah omnivora (Bisa disebut Karnivora, Omnivora, Herbivora), karena diketahui mereka juga makan telur, dan juga serangga selain bambu. Kedua makanan ini adalah sumber protein yang diperlukan. Telinganya bergerak-gerak saat mereka mengunyah. Panda Besar juga masih bersaudara dengan Panda Merah, tetapi mereka dinamai mirip sepertinya akrena kebiasaan mereka memakan bambu. Sebelum hubungannya dengan Panda Merah ditemukan pada tahun 1901, Panda Besar dikenal sebagai beruang berwarna dua. Selama puluhan tahun, klasifikasi taksonomi panda yang tepat diperdebatkan karena baik Panda Besar maupun Panda Merah memiliki ciri-ciri seperti beruang dan rakun. Namun, pengujian genetika mengungkapkan bahwa Panda Besar adalah beruang sejati dan termasuk keluarga Ursidae. Saudara terdekatnya dalam keluarga beruang adalah Beruang Berkacamata di Amerika Selatan. Sekarang masih diperdebatkan apakah Panda Merah termasuk keluarga Ursidaea tau keluarga rakut, Procyonidae. Panda Besar termasuk spesies terancam punah, terancam oleh kehilangan habitat dan tingkat kelahiran sangat rendah, baik di alam maupun di kandang. Sekitar 1.600 diyakini masih hidup di alam.

Panda Besar dalam Icon

Panda Besar adalah lambang World Wildlife Fund (WWF), organisasi pelestarian alam. Panda Besar memiliki cakar yang ganjil, dengan “jempol” dan lima jari; “jempol” ini sebenarnya tulang-pergelangan tangan yang termodifikasi. Stephen Jay Gould menulis esai tentang topik ini, lalu menggunakan judul The Panda’s Thumb untuk buku kumpulan esainya. Panda Besar pertama kali dikenal di dunia Barat pada 1869 oleh misionaris Perancis Armand David (1826–1900). Panda Besar lama menjadi hewan favorit masyarakat, sebagian karena spesies ini lucu seperti bayi, mirip dengan boneka beruang hidup. Panda juga sering digambarkan sedang berbaring santai sambil makan bambu, bukan berburu, sehingga meningkatlah citranya sebagai hewan manis dan cinta damai. (Sumber : Wiki)

Posted by: grahita | August 18, 2011

Panasnya Suhu Politik di Jakarta tidak sepanas Pakistan

“Mungkin kita masih bisa bersyukur, bahwa tragedi politik di Indonesia masih sebatas pada intrik-intrik yang wajar, tidak seperti di Pakistan”.

Oleh: Prapto Wibowo

Peristiwa 30 September 1965, adalah satu-satunya kekerasan politik Indonesia yang mengguncang nmasyarakat luas, dan sampai dengan sekarang kejahatan politik masih dapt dikategorikan sebagai sesuatu yang masih dalam batas kewajaran sistemik. Berbeda dengan Pakistan, negara yang penuh dengan intrik politik membabi buta. Sejak juli sampai dengan bulan ini saja sudah mencapai 300 korban manusia. Mereka terdiri dari anak-anak yang tidak bersalah hingga orang dewasa. Pada umumnya mereka adalah korban kebiadaban pertikaian antar partai. Ketika indonesia merayakan hari kemerdekaannya (17/08/2010), Pakistan justru terjadi pembunuhan terhadap seorang mantan pimpinan partai berkuasa Pakistan (PPP), Waja Karim Dad di kampung kelaiharannya,Karachi, tepatnya di sebuah pelabuhan bagian selatan Pakistan.
Waja Karim terbunuh dalam sebuah insiden penyerangan beberapa saat setelah ia menghabiskan kopi kesukaannya di sebuah kafe kecil. Bersama Waja Karim telah juga menjadi korban sekitar minimal 5 orang lainnya.
Pakistan memang kota politik yang panas. Beberapa kali terjadi penyerangan maupun pertikaian politik dengan melibatkan senjata api. Kejadian ini seakan sudah menjadi hal yang biasa di Pakistan. Suhu politik di Pakistan yang terus memanas, minimal menjadi bahan bagi kita yang senantiasa suntuk dengan peradapan politik di Indonesia saat ini, terutama memberi input bahwa suhu politik di Indonesia masih sedikit lebih baik dibanding Pakistan.

Catatan:
Prapto adalah sahabat pena Grahita Indonesia.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.